Tempat Wisata di Madiun
* Waduk Bening Widas
* Wana Wisata Grape
* Monumen Kresek
* Makam & Masjid Kuno Taman
* Makan & Masjid Kuno Kuncen
* Masjid Kuno Sewulan
* Taman Rekreasi Umbul
* Air Terjun Seweru / Serondo
* Peninggalan Situs Nglambangan
* Waduk Notopuro
* Waduk Kedungbrubus
* Alun-alun Madiun
* Dungus
* THR
* Waduk Dawuhan
Monumen Kresek, adalah monumen bersejarah yang merupakan peninggalan dan sebagai saksi atas Peristiwa Madiun. Lokasi peninggalan sejarah dengan luas 2 hektar ini, berada 8 km ke arah timur dari kota Madiun dan terdiri dari monumen dan relief peninggalan sejarah tentang keganasan PKI pada tahun 1948 di Madiun. Adapun fasilitas wisata yang ada di tempat ini, antara lain, pendopo tempat istirahat, taman tanaman langka dan dilengkapi pula areal parkir.
Waduk Notopuro terletak di Desa Duren, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, tepatnya di Dusun Notopuro. Waduk ini bersifat waduk tadah hujan yang menampung air dari resapan-resapan di sekitar hutan lereng Gunung Pandan. Waduk Notopuro memiliki panorama yang memikat, khususnya ketika matahari terbit dari ufuk timur. Selain sebagai sarana irigasi, budidaya ikan rakyat, waduk ini juga banyak digunakan sebagai wahana rekreasi keluarga dan remaja. Dari arah Kota Caruban, waduk Notopuro berjarak ± 15 km kearah utara melewati Kantor Kecamatan Pilangkenceng. Saat ini akses jalan menuju Waduk Notopuro sudah bagus dengan kondisi jalan aspal hotmix dan terhubung langsung dengan jalan menuju Waduk Kedungbrubus, sehingga menikmati wisata ke Waduk Notopuro, bisa diteruskan menikmati indahnya panorama Waduk Kedungbrubus sambil melewati rindangnya hutan jati.
Waduk Kedungbrubus adalah sebuah waduk yang terletak di sebelah utara kecamatan Pilangkenceng, yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bojonegoro. Waduk ini dibangun di lokasi sekitar dusun Kedungbrubus desa Bulu Kecamatan Pilangkenceng, dimana saat akan dilaksanakan pembangunan fisik waduk, warga Dusun Kedungbrubus dipindahkan ke Dusun Kedungkelis yang juga termasuk dalam wilayah Desa Bulu. Waduk Kedungbrubus telah diresmikan secara resmi oleh Menteri PU Djoko Kirmanto, Gubernur Jawa Timur Imam Utomo dan Bupati Madiun Djunaedi Mahendra pada Bulan Juni 2008. Diperkirakan pada akhir tahun 2008, Waduk Kedungbrubus mulai difungsikan secara maksimal baik sebagai sarana irigasi, lokasi wisata yang memikat. Akses jalan menuju Waduk Kedungbrubus saat ini telah dipersiapkan dengan baik, dan dapat ditempuh melalui jalur sama melewati Waduk Notopuro.
Air Terjun Seweru / Serondo, merupakan lokasi wisata air terjun yang terletak di dusun Seweru desa Kare di wilayah perkebunan kopi Kandangan. Lokasinya berjarak 15 km ke timur dari kota Madiun dengan luas obyek wisata 6 Hektar dilereng Gunung Wilis.
Taman Rekreasi Umbul, merupakan taman peninggalan Belanda untuk peristirahatan. Berlokasi di desa Glonggong, kecamatan Dolopo dan berjarak 20 km dari kota Madiun kearah selatan (Ponorogo). Fasilitas wisata yang ada di daerah ini antara lain, kolam renang air belerang, kebun binatang mini, pesanggrahan (gedung pertemuan) dengan kapasitas untuk 500 kursi, penginapan dengan jumlah 28 kamar, rumah makan, warung, tempat bermain anak, beberapa peninggalan kebudayaan Hindu & Budha yang berupa patung sapi dan sumber air belerang.
Masjid yang bangunan utamanya terbuat dari kayu jati dengan ukuran cukup besar yang ada di Kelurahan/Kecamatan Taman, Kota Madiun dikenal para jemaah dan pengunjung sebagai Masjid Besar Kuno Madiun. Jarang yang mengetahui jika masjid yang dibangun oleh Kiai Ageng Misbach tahun 1754 itu semula bernama Masjid Donopuro.
Dalam sejarahnya, Masjid Donopuro didirikan di tanah perdikan dari Kerajaan Mataram yang diberikan kepada Kanjeng Pangeran Ronggo Prawirodirjo I yang saat itu menjabat Bupati Wedono Timur (Monco Negari Timur) Kerajaan Mataram Bagian Timur Gunung Lawu.
Selanjutnya, tanah perdikan dengan otonomi khusus itu diserahkan kepada Kanjeng Raden Ngabehi Kiai Ageng Misbach yang saat itu menjadi penasihat Kanjeng Pengeran Ronggo Prawirodirjo I.
“Memang tak banyak yang mengetahui dulu nama asli Masjid Besar Kuno Madiun ini Masjid Donopuro. Hal itu sesuai dengan julukan pendirinya, yakni Kiai Ageng Misbcah yang memiliki sebutan Kiai Donopuro,” terang, Raden Mas Suko Pramono, keturunan ketujuh Kanjeng Pengeran Ronggo Prawirodirjo I ini kepada Surya, Kamis (3/9).
Baru setelah masjid kuno yang dikelilingi makam para mantan bupati Madiun ini masuk dalam daftar peninggalan cagar budaya tahun 1981 silam, maka namanya pun diganti menjadi Masjid Besar Kuno Madiun. Menurut Mas Suko Pramono, melalui masjid kuno yang beratap joglo dengan tiga pintu masuk utama inilah syiar agama Islam di wilayah Karesidenan Madiun terjadi.
Lelaki yang akrab dipanggil Raden Suko ini menyebutkan sejumlah tradisi ke-Islaman yang saat itu menjadi sarana syiar agama di antaranya perayaan 1 Muharam yang diwarnai dengan pembacaan Al Qur’an serta sajian makanan jenang sengkolo, nasi liwet, sayur bening, dan lauk-pauk tradisional seperti tahu dan tempe.
Dijelaskan, sayur bening yang disajikan pada malam 1 Muharam memiliki arti kebeningan jiwa. Sedangkan nasi liwet berarti kebeningan atau kejernihan jiwa itu diharapkan dapat mengental di hati.
Jenang sengkolo memiliki arti adanya harapan agar dijauhkan dari musibah. Sedangkan lauk tahu tempe mewakili makanan khas yang digemari rakyat kebanyakan.
Selain menyajikan aneka makanan tersebut bagi jemaah dan warga sekitar, masjid juga menggelar seni Gembrung, berupa senandung sholawat yang diiringi alat musik sejenis jidor dan lesung (alat untuk menumbuk padi).
“Namun sekarang seni itu sudah hampir musnah dan tak pernah diadakan lagi. Yang masih tersisa adalah Grebeg Bucengan (tumpengan) saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW,” ungkap lelaki berusia 44 tahun ini.
Tak Direnovasi Raden Suko menjelaskan, sampai saat ini masjid kuno tersebut tidak pernah direnovasi sama sekali, kecuali hanya penambahan kanopi jika jemaah membeludak.
Dikatakan, baik bangunan dalam masjid maupun pendopo joglo masjid merupakan bangunan utama masjid kuno tersebut.
Di komplek masjid ini terdapat makam para mantan bupati Madiun, mulai dari Kanjeng Pangeran Ronggo Prawirodirjo I dan penasihatnya Kiai Ageng Misbach, hingga sejumlah bupati Madiun penerusnya. Asmunadi, 47, warga Kelurahan/Kecamatan Taman, Kota Madiun, mengaku tak pernah tahu kalau masjid tersebut memiliki nama asli Masjid Donopuro.
“Sudah bertahun-tahun saya menjadi jemaah di sini, saya tidak tahu kalau nama asli masjid ini Masjid Donopuro. Umumnya warga menyebut Masjid Kuno Taman atau Masjid Kuno Madiun,” kata Asmunadi sebelum mengikuti berbuka bersama di masjid tersebut.