Hidup dalam keterbatasan tidak membuat Sutomo, guru mata pelajaran bahasa Jawa ini, patah arang. Dia tetap berjuang hidup dengan mengandalkan sebelah tangannya yang masih tersisa. Hobi mengotak-atik peralatan eletronik juga tetap ditekuni. Bagaimana kisahnya?
TIDAK ada yang aneh dalam keseharian pria berusia 48 tahun itu. Setiap pagi, Sutomo selalu menyusuri jalan dari rumahnya di Kecamatan Wungu menuju SMPN 4 Kota Madiun naik sepeda motor 4 tak. Namun tidak seperti pengendara motor yang lain, dia hanya memegang batang setir bagian kiri. Maklumlah, sejak 13 tahun lalu, Sutomo harus kehilangan tangan kanannya akibat kecelakaan lalu-lintas.
Celaka yang dialami bapak dua anak tersebut bermula dari ajakan seorang kawannya, pada 1997 lalu. ”Saya diajak ke Nganjuk tapi dalam perjalanan ngantuk hingga terjatuh dari motor. Dua tangan saya patah,” kenang Sutomo.
Kecelakaan itu ternyata berakibat cukup fatal bagi penyuka hobi otak-atik elektronik tersebut. Tangan kanan Sutomo tak hanya patah, tapi juga putus sarafnya. Tak urung, tangan sebelah itu tidak berfungsi sama sekali. ”Saya kebingungan. Soalnya sudah terbiasa menulis pakai tangan kanan, bagaimana saya bisa memberi pelajaran di kelas. Saya akhirnya berlatih terus menulis pakai tangan kiri,” ujar alumni IKIP PGRI Surabaya ini.
Sutomo tak mau menyerah begitu saja. Dia sengaja rutin berobat ke sebuah rumah sakit di Solo. Dalam rentang satu tahun, enam kali sudah Sutomo menjalani operasi penyambungan saraf tangan kanannya. ”Operasi itu tidak ada yang berhasil. Malahan tangan kanan saya jadi beban sebab kalau kemana-mana harus dipegangi. Jadinya saya memilih diamputasi saja,” tutur ayah dua anak ini.
Pilihan amputasi diambil Sutomo dengan berbagai pertimbangan. Dia tidak ingin terus-menerus dibebani sebelah tangannya. ”Pertengahan 1998, tangan kanan saya akhirnya dipotong. Ada kelegaan, tapi juga kebimbangan soalnya saya waktu itu akan melamar pacar saya,” terang warga Tempursari, Wungu, Madiun ini.
Dengan kondisi tanpa tangan kanan, Sutomo tetap nekat melamar gadis pujaannya, Yayuk Sahitnowati. Kondisi Sutomo ternyata diterima dengan lapang dada oleh keluarga calon mempelai wanita. Sutomo resmi menikahi Yayuk, pada tahun 2000. ”Meski saya nggak punya tangan kanan, tapi masih bisa nyetir motor, juga membonceng istri dan dua anak saya. Motor itu sudah saya modifikasi, gasnya dipindah ke kiri,” ujarnya.
Selain khawatir lamarannya ditolak, Sutomo sempat takut tidak bisa menyalurkan hobinya mengotak-atik barang elektronik. Terutama saat menyolder bagian yang rusak. ”Saya mencoba beberapa kali teknik solder. Seperti menggunakan alat semacam cantolan mik dengan kaki saya tapi gagal. Akhirnya saya temukan teknik solder dengan mulut dan berhasil. Saya hanya butuh waktu seminggu untuk penyesuaian,” ungkapnya.
Keahlian Sutomo memperbaiki perlatan elektronik membuat manajemen SMPN 4 Kota Madiun memberi tugas baru baginya. Yakni, sebagai koordinator perawatan sound system milik sekolah. Sutomo belakangan juga berani membuka jasa servis alat elektronik di rumahnya. ”Semua alat-alat sound system bisa saya perbaiki. Saya juga biasa buat amplifier, memperbaiki tape, dan VCD. Yang memasang instalasi listrik di rumah, ya saya sendiri. Sampai-sampai isti saya ikut heran,” katanya.
Sutomo sendiri masih memiliki impian yang belum tercapai hingga kini. Dia berharap memiliki bengkel modifikasi setelah pensiun. Sutomo ingin membuat karya sepeda motor beroda tiga untuk penyandang cacat. Selain itu, bengkelnya diharapkan dapat menampung anak berkebutuhan khusus atau yang tidak mampu. ”Pinginnya seperti itu tapi untuk sekarang belum bisa. Soalnya terkendala modal,” jelasnya.
Dari kecelakaan yang dialaminya, Sutomo mengaku mendapat hikmah yang luar biasa. Menurutnya, dalam kondisi kekurangan bisa menemukan kelebihan yang kadang disangsikan oleh orang lain. Seperti, kemampuan memperbaiki peralatan eletronik hingga berangkat kerja naik sepeda motor sendiri. ”Saya tidak pernah minder. Semua cobaan harus diterima dengan lapang dada,” terangnya.
JPNN