Nama Ninik Sulistyowati tidak asing bagi siswa sekolah dasar di Kota Madiun, terutama yang gandrung menari. Perempuan 42 tahun itu dikenal sebagai pelatih tari yang sudah ditekuninya sejak 1989.
Puluhan siswa sekolah dasar (SD) terlihat berkumpul di halaman belakangan kantor Dinas Dikbudpora Kota Madiun di Jalan Mastrip. Mereka berlatih Incling Jangget, tari kreasi dari Tulungagung. Sesekali mata puluhan siswa itu melihat instruksi perempuan berusia 42 tahun. ”Mendaknya mana kok kaya gitu. Sing luwes,” teriak perempuan itu sambil mengomando puluhan siswa SD, kemarin.
Tidak segan, perempuan yang memakai T-shirt gelap itu turun langsung di tengah anak-anak. Dia mulai membetulkan gerakan siswa yang terlihat salah dan tidak sesuai irama. ”Anak-anak lagi latihan untuk persiapan tampil di pekan seni pelajar Kota Madiun,” terang perempuan yang memiliki nama lengkap Ninik Sulistyowati itu.
Ninik bukan orang baru di duani seni tari di Kota Madiun. Dia kerap menangani duta kota yang bakal berlaga di tingkat Provinsi Jawa Timur. Bahkan, kemahirannya dalam dunia seni tari juga mengatarkannya masuk sebagai pegawai bidang kebudayaan Dinas Dikbudpora. ”Saya ini lulusan SMKI Surabaya, jurusan tari. Awalnya saya membantu garap tari Tayung Longgo Lawung saat pekan budaya tahun 1989,” tuturnya memulai cerita seputar debutnya di dunia seni tari.
Polesannya sudah mengantarkan kelompok tarinya menjadi penyaji terbaik kelima se-Jatim. Sehingga kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, memanggilnya. ”Sama pak kepala dinas saya ditawari jadi sukwan. Tawaran itu langsung saya terima,” jelasnya.
Berstatus sebagai pegawai sukarelawan menjadi awal kiprah Ninik dalam dunia tari di Kota Madiun. Dia kerap melatih duta-duta kota yang akan bertanding di ajang tingkat provinsi. Tahun 1991, Ninik melatih pelajar SMA kota tari Jangger Sari untuk ditampilkan pada pekan seni di Kediri. Begitupun ketika tahun 1991, dia terlibat dalam tari Tayung Purbosari yang akan ditampilkan di Malang. ”Setiap kali melatih tari untuk ditampilkan saat kejuraan, anak-anak yang saya bina pasti masuk 10 besar. Ini kebanggaan bagi saya,” terangnya.
Bagi Ninik, pengalaman paling berkesan saat dirinya dipercaya untuk melatih duta tari kota yang akan tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Tepatnya pada tahun 1991, 1992, dan 1996. ”Bangga sekali bisa tampil di anjungan Jawa Timur dan disaksikan ribuan penonton,” terangnya.
Rasa cintanya pada dunia tari juga melahirkan puluhan kreasi baru. Istri Bremi Rusdianto ini juga hafal ratusan gerakan tari dari berbagai daerah. ”Inspirasinya bisa datang dari manapun. Semua kreasi yang tercipta, saya tularkan kepada siswa,” terangnya.
Status sebagai pegawai sukwan berakhir tahun 1993. Saat itu, Ninik memberanikan diri mengikuti tes penerimaan PNS di Surabaya. Akhirnya dia berhasil menjadi PNS dan ditempatkan di Kota Madiun. ”SK saya sebenarnya dari Provinsi Jatim. Tapi karena saya ikut suami di Kota Madiun, jadi dimutasi ke sini,” ungkapnya.
Darah seni yang mengalir di tubuh Ninik berasal dari ayahnya, almarhum Djaswadi. Ayahnya seorang pensiunan TNI-AD yang juga dikenal sebagai pekerja seni wayang orang. Ayahnya lah yang mengajarinya tari. ”Kecintaan pada tari juga saya tularkan ke anak semata wayang saya. Dia juga senang nari, syukurlah ada penurus,” tutur Ninik.
16 tahun lagi, Ninik pensiun sebagai PNS. Dia mengaku tidak akan meninggalkan dunia tari. Baginya, bisa mengajarkan tari bagi anak-anak menjadi kepuasan tersendiri. ”Tari sudah menjadi dunia saya. Rasanya bangga bisa melestarikan budaya bangsa ini sampai kapanpun,” terangnya.
JPNN