Aksi percobaan bunuh diri yang dilakukan Siti, 40, warga Jakarta dengan memanjat tower, pertengahan pekan kemarin, benar-benar dramatis. Selain aksi nekat wanita yang patah hati itu, aksi aktivis mahasiswa pecinta alam (mapala) saat menyelamatkan pelaku itu tak kalah dramatis. Seperti apa?
RATUSAN orang berjubel di bawah tower salah satu operator komunikasi seluler di sebelah barat alun-alun Ponorogo. Hampir semua tatapan mereka mengarah ke puncak tower. Gelap malam semakin menambah warga mempertajam tatapan mereka pada sesosok wanita yang berbaring di atas ketinggian 70 meter.
Ketika wanita itu turun pada ketinggin 40 meter, tiba-tiba seorang pria ikut naik. Pria yang bernama Rosyid itu memburu wanita yang juga ikut naik itu. Di bawahnya menyusul Didik tak kalah cekatan ikut memburu wanita itu. Pemandangan saling bergelayutan layaknya manusia laba-laba membuat warga yang melihatnya harap-harap cemas. ”Kami sengaja ngotot naik karena yakin wanita itu tak akan menjatuhkan dirinya,” kata Didik, saat ditemui di Sekretariat Mapala Unmuh Ponorogo, kemarin siang (14/3).
Karena yakin Siti tak akan menjatuhkan diri, maka kedua mahasiswa ini langsung menyiapkan alat bantu untuk menurunkannya. Di antaranya carnmantel (tali tubuh), carabiner (pengait), webbing (pengikat tubuh). Keyakinan Didik dan Rostid tak salah. Setelah berada di ketinggian 50 meter dia berhasil mendekati Siti.
Kepada pelaku percobaan bunuh diri itu, Didik menanyakan asal dan tujuannya. Sehingga terjadi komunikasi sebagai modal membujuk agar dia mau dibantu untuk diturunkan. ”Kalau ditanya kenapa mau bunuh diri biasanya dia langsung marah dan tak mau diajak komunikasi,” ujarnya.
Setelah berhasil membujuk pelaku, Didik dan Rosyid langsung memasang peralatan untuk menurunkan pelaku. Lantaran sudah hampir lima tahun bergelut dengan panjat tebing, proses penurunan wanita yang mengaku korban putus cinta itu berjalan lancar dan mudah. ”Kalau sudah mau diturunkan itu hal mudah, yang sulit itu mengawali prosesnya,” katanya.
Hal senada diungkapkan Rosyid. Menurutnya, melihat pelaku yang sudah berdiri di atas tower sekitar dua jam dia mulai waswas. Sebab, dalam kondisi dingin pada ketinggian tersebut membuat daya tahan tubuhnya menurun. Sehingga jika tidak segera ditolong, rawan jatuh. ”Sebenarnya setelah dua jam itu secepatnya kami naik memberikan pertolongan. Namun karena aparat kepolisian belum mengijinkan akhirnya ya waswas saja,” katanya.
Baru setelah menunggu 2,5 jam, Kapolres Ponorogo AKBP Lakoni Wiranegara turun langsung ke lapangan memberikan izin keduanya naik memberikan pertolongan. Langsung saja keduanya mempersiapkan peralatan dan naik. ”Izin dari kapolres itu memberikan kami semangat dan motivasi,” tegasnya.
Dituturkan, proses evakuasi seperti itu bukanlah kali pertama dilakukan. Sebelumnya, dia berulangkali diminta aparat kepolisian membantu proses evakuasi. Khususnya pada medan ketinggian atau yang membutuhkan keahlian tali-temali. Seperti evakuasi mayat di puncak gunung Liman. Termasuk saat evakuasi korban bunuh diri di sumur bekas kodim di selatan alun-alun. ”Meski capek tapi bangga, karena bermanfaat bagi orang lain,” pungkasnya.
JPNN
Baca juga :
Komentar :