Sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur jalan, merupakan kendala utama yang dihadapi Pacitan dalam memaksimalkan potensi sumber daya alam (SDA). Realita itu menjadikan Pacitan masih menyandang predikat sebagai daerah tertinggal di Indonesia. ”Dua hal itu merupakan persoalan utama, selain kondisi geografisnya yang bergunung,” kata kepala Bappeda dan Penanaman Modal Pacitan Edy Yunan Achmadi, saat menerima staf ahli DPR RI Irfan Reza, kemarin (11/2).
Potensi batu alam misalnya. Kendati Pacitan dikenal memiliki bahan baku berkelas, namun susah digali. Persoalannya, setelah diolah dan dijual harganya cukup mahal, yakni Rp 55 ribu per meter persegi. Harga itu relatif lebih mahal dibanding produk di Malang maupun Tulungagung yang berkisar Rp 53 ribu per meter persegi. ”Padahal, pengusaha batu alam Tulungagung, mengambil bahan bakunya dari Pacitan,” tandas Edy Yunan.
Setelah dilakukan evaluasi, ada persoalan mengenai SDM-nya. Kinerja karyawan di Tulungagung beda dengan di Pacitan. Jika di Tulungagung, satu karyawan bisa menghasilkan sekitar tujuh meter persegi setiap hari. Sedang di Pacitan hanya mampumenghasilkan sekitar dua meter persegi. ”Waktu kerja sama, bahan juga sama. Tetapi, perolehan hasilnya beda.”
Kondisi itu membuat pengusaha di Pacitan kalah bersaing. Akibatnya, pengusaha lokal menjual ke luar kota dalam bentuk bahan baku. Hal serupa juga terjadi pada kayu hutan,empon-empon dan sebagainya.
Selain itu, ada permasalahan lain yang dinilai sebagai penyebabkesulitan mendapatkan SDM mumpuni. Yakni, banyaknya anak muda yang meneruskan kuliah di luar kota. Hanya, setelah lulus pemuda potensial bekerja di luar kota. Tidak sedikit di antara mereka yang kemudian menjadi orang sukses.
Meski demikian, Yunan optimistis ke depan Pacitan akan mampu bersaing dengan daerah lain. Keyakinan itu muncul setelah beberapa infrastruktur pendukung, seperti akses jalan maupun akses umum lainnya mulai digarap. Pembangunan Jalan Lintas Selatan (JLS) misalnya, akan membuat transportasi menjadi murah. Begitu juga rencana pemerintah membangun pelabuhan perintis, yang akan dimulai Maret tahun ini.
Keberadaan infrastruktur pendukung itu, nantinya akan menggairahkan iklim ekonomi. Paling tidak, banyak pelaku usaha datang ke Pacitan. Sehingga, ekonomi menjadi tumbuh lantaran bertambahnya perputaran uang. ”Selama ini, banyak uang Pacitan yang dibawa ke luar. Baik untuk biaya pendidikan, belanja dan sebagainya,” tandas Yunan.
Sementara itu, Irfan Reza mengatakan pembangunan tidak harus bentuk fisik. Tetapi, perlu pembangunan manajemennya. Semua itu bermuara pada pelayanan menjadi baik, cepat dan murah. ”Kami akan membantu mencetak wiraswastawan pemuda di lingkungan pedesan,” kata Irfan.