Thursday, July 29, 2010 22:31

Siswa SDN Warurejo, Balerejo, Sekolah Nunut di Rumah Warga

Oleh portal madiun pada Thursday, February 4, 2010, 18:09

Karena ruang kelasnya rusak parah, 46 siswa kelas I dan II SD Negeri Warurejo, Balerejo, Kabupaten Madiun harus nunut di rumah warga. Bagaimana suasananya?

”Sing gawe PR endi bu (yang dibuat PR mana, Bu),” tanya salah seorang siswa kelas I SD Negeri Warurejo, Balerejo, Selasa (2/1) pagi. Saat itu, 28 siswa sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM). Pelajarannya, matematika.

Yang menarik, siswa belajar tidak di ruang kelas. Mereka menempati rumah Cipto Utomo, di sisi utara SD Negeri Warurejo. Siswa kelas II sekolahnya di rumah Karmun, sisi selatan gedung. Siswa pindah karena di ruangan mereka kayu penyangga atap alias kuda-kuda lapuk, plafon jebol, dinding retak dan lantai bergelombang. Kondisi tidak layak huni itu sudah berlangsung selama setahun ini. Meski begitu, pembelajaran tetap berjalan.

Siswa tetap tekun belajar. Mereka tetap memperhatikan pelajaran yang sedang disampaikan guru. Semangat menuntut ilmu para bocah yang mengenakan seragam putih-merah itu tetap tinggi. Buktinya, meski cahaya di dalam rumah yang disulap menjadi ruang kelas itu redup, mereka seksama memperhatikan pelajaran.

Mata mereka memandang ke papan tulis dan sesekali ke buku pelajaran di bangkunya. Padahal, cahaya penerangan di ruangan itu hanya dibantu satu satu neon. Kondisi itu, yang terlihat di dalam rumah Cipto Utomo. ”Untuk melihat tulisan ke papan tulis kurang jelas,” ungkap Ryan Anggara, salah seorang siswa yang duduk di bangku nomor tiga dari depan.

Kondisi itu berbeda, saat KBM berlangsung di dalam kelas. Akibatnya, bila guru yang sedang mengajar menulis dalam ukuran kecil dia seringkali bertanya kepada teman sebangkunya. Kendati demikian, kondisi itu tidak mempengaruhi konsentrasi. ”Tidak apa-apa (belajar) di sini,” katanya.

Saat itu pembelajaran sedang berlangsung. Namun, Lasminah guru yang sedang mengajar di kelas satu mempersilakan wartawan melakukan tugas jurnalistik di ruangan itu. Beberapa siswa lainnya, juga mengungkapkan hal serupa dengan Ryan. Bagi mereka, pembelajaran di kelas lebih nyaman dibandingkan nunut di rumah warga. ”Enak di kelas,” ucap Dilavinsa Indar Putri Nadila, salah seorang siswi.

Bagi bocah enam tahun itu, kenyamanan di kelas karena matanya bisa melihat beberapa gambar pahlawan nasional yang terpasang di dinding. Juga, media pembelajaran yang lain. Selain itu, tidak ada tiang kayu seperti hal di dalam rumah Cipto Utomo yang dijadikan kelas.

Bagi Avin – panggilan – Dilavinsa Indar Putri Nadila adanya tiang kayu mengganggu posisi duduk. Apalagi, penataan bangku yang terlalu mepet dan mengganggu gerakan badannya. Manakala harus maju ke depan maupun keluar kelas. Juga, bila hendak berbincang dengan teman yang duduk di bangku belakangnya. ”Duduknya sempit,” kata dia polos.

Kesempitan itu, bukan karena bangku maupun kursi berubah ukuran menjadi kecil. Melainkan, penataan yang terlalu mepet. Hal itu sengaja dilakukan, lantaran dengan dipindahnya ruangan kelas diharapkan tidak mengganggu aktivitas si pemilik rumah. Misalnya, menaruh gabah hasil panen ataupun keluar masuh rumah. ”Itu tetap kami perhatikan,” kali ini kata Lasminah, sang guru.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik, perempuan 54 tahun itu tidak ada masalah. Meskipun, ruangan kelas berpindah untuk sementara. Kendati demikian, dia berharap agar rehabilitasi gedung di tempatnya mengabdikan diri segera dilangsungkan. ”Kasihan anak-anak,” lanjut ibu dari dua anak itu.

Bagaimana mengubah blog WordPress menjadi MESIN UANG yang MEMATIKAN !! Tutorial komplit dilengkapi Software dan Script Siap Pakai SEO Complete Guide for Wordpress Instant Internet Business Ideas



Beri Tanggapan