Jeruk pamelo, salah satu ikon Magetan dipilih Balai Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur untuk kegiatan penelitian dan budidaya. Bahkan, BPTP menggandeng Malaysia dan Thailand untuk proses penyelamatan agar tidak punah.
”Tanaman buah-buahan yang diteliti itu untuk diselamatkan sebagai tanaman lokal daerah. Termasuk dibudidayakan secara besar karena telah dilakukan secara berkelompok maupun rumahan,” kata Kepala Bidang Pengembangan Hortikultura Dinas Pertanian Magetan, Agus Supriatna.
Dikatakan, jeruk pamelo saat ini memang sudah menjadi salah satu produk unggulan Magetan. Sayangnya, pohon yang ada sekarang sebagian besar sudah menua. Sehingga, harus dikembangkan agar tetap produktif. ”Kalau sudah tua, tanaman tentu tidak akan produktif. Maka, butuh peremajaan.”
Saat ini, populasi jeruk pamelo di Magetan tercatat ada sebanyak 582.845 pohon. Wilayah yang merupakan sentra kebun jeruk berada di Kecamatan Bendo, Sukomoro, Takeran, Kawedanan, Magetan dan Nguntoronadi. Dari tanaman jeruk sebanyak itu, telah tersebar di areal seluas sekitar 450 hektare. ”Setiap hektarnya tertanami 1.300 batang pohon,” jelas Agus.
Menurutnya, para petani jeruk di Magetan telah melakukan pembudidayaan dengan benar sesuai ketentuan untuk mengantisipasi serangan hama lalat buah. Mereka telah melakukan pembungkusan terhadap buah jeruk di pohon. ”Pembungkus tersebut sekaligus sebagai alat perangkap hama tersebut.”
Dipaparkan Agus, Dinas Pertanian pada tahun 2010 ini melalui APBD akan menganggarkan bantuan plastik pembungkus. ”Plastik tersebut,sesuai ketentuan standar sehingga bisa dipakai lima kali,” pungkas Agus.
JPNN